Tak Kenal Maka Tak Sayang: UEFA Financial Fair Play

19NOL8.com — Ini adalah terjemahan dari artikel di situs resmi UEFA, yang berjudul asli "Financial fair play: all you need to know". Kami merasa perlu membuat artikel ini untuk membantu pembaca dalam memahami isu Financial Fair Play (FFP) yang kini sedang ramai dibicarakan. Artikel ini sekaligus berperan sebagai klarifikasi pada artikel-artikel 19NOL8 soal FFP lainnya jika terdapat kekeliruan di dalamnya.

Apa itu FFP? Bagaimana aturan ini berjalan? Apa tujuannya, dan mengapa UEFA yakin FFP akan membantu mensejahterakan klub? Mari cari tahu jawabannya di sini.

1) Bagaiamana cara menjelaskan FFP secara singkat?

FFP adalah usaha untuk menyehatkan keuangan klub-klub sepakbola di Eropa.

2) Kapan aturan ini mulai berlaku?

FFP sudah mulai berlaku sejak tahun 2011. Sejak saat itu, klub yang masuk kualifikasi kompetisi UEFA [misal: Liga Champions, Liga Europa] harus membuktikan pada UEFA bahwa mereka tidak punya kewajiban membayar pada pemain, klub lain, atau badan sosial/perpajakan sepanjang musim yang berjalan. Pendeknya, klub harus "bebas hutang".

Mulai musim 2013/14, klub juga harus memenuhi syarat baru: mencapai titik impas (break-even point), yang artinya mereka tidak boleh memiliki pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Terkait hal ini, UEFA telah membentuk Badan Pengendalian Keuangan Klub/BPKK (Club Financial Control Body/CFCB) yang bertugas untuk melakukan verifikasi pada neraca keuangan klub dalam periode asesmen tertentu, yaitu dalam dua tahun ke belakang, dan sejak musim 2014/15, tiga tahun ke belakang.

Sanksi pertama bagi klub yang tidak mematuhi aturan titik impas diberikan setelah pemeriksaan pertama pada bulan Mei 2014. Sanksi itu akan efektif pada musim 2014/15.

3) Apa ini artinya klub tidak boleh mengalami kerugian?

Klub boleh mengalami kerugian hingga maksimal 5 juta Euro setiap periode pemeriksaan (tiga tahun). Bagaimanapun, angka tadi bisa dilewati hingga batas tertentu selama pemilik atau pihak terkait lain bisa menjaminnya.

Batas-batas yang dimaksud adalah sebagai berikut:
• 45 juta Euro untuk musim 2013/14 dan 2014/15
• 30 juta Euro untuk musim 2015/16, 2016/17 dan 2017/18

Pada musim berikutnya, batas yang diberikan akan semakin rendah, dengan angka yang belum ditentukan.

Bagaimanapun, dana yang digunakan dalam rangka pembangunan stadion, fasilitas latihan, dan perkembangan pemain muda tidak masuk dalam hitungan titik impas. Hal ini dilakukan untuk membantu klub berkembang dengan melakukan investasi di sektor-sektor tersebut.

4) Apakah klub yang melanggar akan langsung dikeluarkan dari kompetisi UEFA?

Jika sebuah klub tidak mematuhi aturan, BPKK akan bertindak menentukan sanksinya.

Melawan aturan tidak membuat sebuah klub langsung dikeluarkan dari kompetisi, namun pemberian sanksi akan tetap diberlakukan. Meski begitu, memang sanksi yang dijatuhkan akan berbeda-beda (misalnya perbedaan perhitungan titik impas), tergantung situasi klub yang bersangkutan. Inilah macam-macam sanksi yang bisa dijatuhkan:
a) peringatan
b) teguran formal
c) denda
d) pengurangan poin
e) pembekuan pendapatan dari kompetisi UEFA [misal: hadiah uang bagi juara Liga Champions]
f) larangan untuk mendaftarkan pemain baru di kompetisi UEFA [misal: penambahan pemain di tengah musim]
g) pembatasan jumlah pemain yang boleh didaftarkan dalam sebuah kompetisi UEFA, serta pembatasan pengeluaran untuk membeli pemain yang boleh didaftarkan di A-list
h) diskualifikasi dari kompetisi yang sedang berjalan dan/atau pencabutan hak partisipasi kompetisi di akan datang
i) pencabutan gelar atau penghargaan

5) Apakah pemilik klub diperbolehkan menyetor uang kepada klub sesuka hatinya (atau melalui kesepakatan sponsor)?

Jika seorang pemilik klub ingin menyetorkan uang melalui perusahaan yang berhubungan dengannya, badan UEFA terkait akan melakukan investigasi dan, jika diperlukan, menyesuaikan perhitungan titik impas, sehingga uang yang masuk melalui sponsor tetap terkontrol.

6) Siapa yang mengeluarkan lisensi bagi klub untuk bisa berpartisipasi di kompetisi UEFA?

Setiap klub yang masuk kualifikasi untuk berpartisipasi di kompetisi UEFA harus memiliki lisensi. Lisensi tersebut umumnya dikeluarkan oleh asosiasi sepakbola masing-masing negara. Ketentuan ini sesuai dengan Regulasi Lisensi Klub dan Financial Fair Play UEFA. UEFA kemudian melakukan verifikasi pada dokumen dan laporan keuangan klub yang akan bermain di kompetisi UEFA.

7) Ada klub yang punya hutang sangat besar, dan ada pula yang tidak membayar hutangnya. Apakah klub semacam itu masih bisa mematuhi FFP?

Klub wajib membayar kewajiban atau hutang apapun dengan tepat waktu. Artinya, klub harus membayar gaji pemain atau biaya transfer sesuai dengan yang disepakati dalam kontrak, jika tidak ingin dijatuhi sanksi oleh badan UEFA terkait.

8) Apakah sudah ada klub yang dicabut haknya dari kompetisi UEFA karena FFP?

Kebijakan lisensi [seperti yang dimaksud di jawaban pertanyaan 6)] mulai diberlakukan di musim 2003/04. Sejak saat itu, sudah ada 44 klub yang dicabut hak partisipasinya. FFP diluncurkan pada tahun 2011, dan langsung dimasukkan sebagai kriteria penerima lisensi. Sudah ada beberapa klub yang tidak bisa berkompetisi karena belum membayar gaji pemain atau membayar biaya transfer pada klub lain.

9) Apakah FFP sejalan dengan hukum di Eropa?

UEFA secara konstan menjalin komunikasi dengan Komisi Eropa tentang FFP dan selalu mendapat dukungan dari sana. Presiden UEFA dan komisioner Uni Eropa juga memiliki nota kesepahaman yang menekankan satu jalurnya aturan dan tujuan FFP dengan kebijakan bantuan ekonomi nasional di Uni Eropa.

10) Apakah FFP akan menghalangi klub kecil mengalahkan klub besar dari sudut pandang finansial?

Sebelum FFP diberlakukan, perbedaan kemampuan ekonomi klub-klub Eropa sudah terlebih dulu ada. Tujuan FFP bukanlah untuk membuat semua klub memiliki kekuatan ekonomi yang sama, melainkan untuk mendorong klub untuk membangun kesuksesan, alih-alih "membeli gelar". Klub sepakbola membutuhkan lingkungan dimana investasi masa depan lebih dihargai, sehingga akan ada lebih banyak klub yang memiliki prospek bagus.

Penghargaan yang lebih pada investasi pemain muda atau stadion [seperti yang diisyaratkan di jawaban pertanyaan 3)], dan dengan membuat batas kerugian wajar dalam bentuk angka absolut (sekian juta Euro) bukan persentase yang sifatnya relatif (sekian persen), titik impas akan dibuat menjadi lebih longgar untuk klub-klub kecil dan menengah. Jadi, akan ada lebih banyak klub kecil dan menengah yang punya potensi untuk berkembang.

11) Ada pemain-pemain yang kontraknya bukan dimiliki oleh klub, namun oleh pihak lain seperti investor atau agen. Apakah FFP menerima hal ini?

Hal semacam itu dikenal sebagai "kepemilikan oleh pihak ketiga", dan adalah sesuatu yang diakui oleh FIFA. Bagaimanapun, FFP mengharuskan klub untuk membuka informasi mengenai kesepakatan semacam itu, dan menunda perpindahan uang harus ditunda hingga si pemain sudah benar-benar terjual.

UEFA sudah meminta FIFA untuk melarang praktik kepemilikan pihak ketiga, dan bila FIFA tidak melakukannya, UEFA akan membuat peraturan sendiri untuk melarangnya, setidaknya dalam lingkup kompetisi UEFA.

12) Mengapa tidak ada klub yang 'dihapuskan' dari kompetisi UEFA?

Seperti yang disebutkan di pertanyaan 4), diskualifikasi atau pelarangan keikutsertaan di kompetisi UEFA adalah bentuk sanksi yang bisa diberikan. Namun, FFP dibuat dengan tujuan untuk membentuk manajemen keuangan klub yang sehat, dan sanksi yang diberikan berfokus untuk mencapai tujuan itu. UEFA percaya bahwa sanksi dan resolusi yang diberikan sudahlah tepat.

13) Apa yang membuat BPKK UEFA memutuskan untuk mencapai resolusi dengan (tidak memberi sanksi pada) klub? 

Dewan investigasi BPKK melakukan demikian dengan tujuan untuk memfasilitasi niat baik klub untuk tunduk pada aturan. Artikel 15 dalam aturan Prosedural BPKK menyebutkan, "resolusi bisa menghilangkan kewajiban yang harus dipenuhi klub terdakwa, termasuk di dalamnya hukuman, dan jika perlu, dalam jangka waktu tertentu. Penyidik utama BPKK mengawasi pemberian resolusi, untuk memastikan hal tersebut dilakukan dengan tepat. Jika klub terdakwa gagal mematuhi aturan resolusi, penyidik utama BPKK akan merujuk kasusnya ke dewan adjudikasi."

14) Bagaimana nominal sanksi finansial ditentukan?

Sanksi finansial bergantung pada pendapatan masing-masing klub yang mereka dapatkan dari partisipasi dalam kompetisi Eropa dalam tiap periode asesmen [tiga tahun sejak musim 2014/15]

15) Mengapa ada sanksi pembatasan A-list dan bagaimana sanksi tersebut ditentukan?

BPKK merasa perlu untuk memberi sanksi "lapangan" selain sanksi finansial. Pembatasan A-list berfungsi ganda: untuk membatasi keuntungan yang klub dapatkan karena melanggar aturan, sekaligus membantu mereka mencapai titik impas. Pembatasan A-list juga ditunjang oleh pembatasan pemain tambahan dan pembatasan nominal transfer.

16) Bagaimana jika klub ingin mengajukan banding?

Keputusan apapun yang dibuat BKPP untuk menentukan resolusi ataupun pemberian sanksi akan ditinjau oleh dewan adjudikasi sesuai permintaan pemohon dalam jangka waktu 10 hari sejak putusan dibuat.

17) Bagaimana UEFA membantu klub yang melanggar FFP untuk patuh pada aturan titik impas?

Jika klub yang melanggar FFP ingin mendapat resolusi, mereka harus segera mematuhi aturan. Jika klub yang bersangkutan gagal melakukannya, mereka akan langsung dirujuk ke dewan adjudikasi.

Sebaliknya, bila klub berhasil memenuhi semua syarat resolusi tanpa terkecuali, mereka akan langsung dibebaskan dari pembatasan jumlah pemain di musim berikutnya. Lalu, jika klub berhasil mencapai titik impas dalam jangka waktu yang disepakati, semua sanksi akan dipindah ke musim berikutnya, meski ada beberapa pengecualian.

18) Untuk apakah uang yang diterima UEFA dari sanksi finansial?

UEFA tidak menyimpan sedikitpun uang tersebut. Uang yang diterima UEFA akan dibagikan kepada klub-klub lain sesuai dengan perhitungan yang sudah disepakati sebelumnya. Detail mengenai pembagian ini ditentukan oleh UEFA dan Komite Eksekutifnya.

19) Bagaimana sikap FFP terhadap hutang klub?

Ada dua jenis hutang: yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Hutang yang dapat dikendalikan dalam sepakbola adalah hutang yang ditujukan untuk perkembangan (pembangunan stadion, akademi, infrastruktur, dll.), dan merupakan hal yang lumrah dalam bisnis. Hutang yang tidak dapat dikendalikan misalnya adalah penggunaan pendapatan yang belum didapatkan, yang biasanya untuk membiayai ongkos operasional klub seperti gaji dan biaya transfer, atau menutup hutang. Hutang semacam ini bisa menimbulkan masalah bagi klub. FFP membantu menghindari hutang jenis kedua ini.
Previous
Next Post »